Rabu, 09 Desember 2015

ِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Menelusuri Keindahan Seoul Central Mosque dan Jejak Islam di Korea

Assalamu'alaykum para sahabat semua.
Sebelum istirahat, yuk kita membahas tentang perkembangan Islam atau jejak Islam di negeri Ginseng Korea Selatan. Dari dulu saya memang sudah tertarik sekali dengan perkembangan islam di negeri yang amat terkenal akan artis-artis kpopnya, seperti boyband/girlband, drama korea, dan lain-lainnya.
Yuk langsung saja kita bahas chingu (panggilan teman dalam bahasa korea).
 


Penduduk Korea Selatan mayoritas beragama Budha, namun bukan berarti kita tidak dapat menemukan jejak-jejak Islam di negeri gingseng ini. Atmosfer kehidupan muslim ternyata dapat ditemukan di Seoul Central Mosque yang berada di Itaewon, Seoul, Korea Selatan. Seoul Central Mosque sendiri diketahui sebagai masjid pertama dan satu-satunya di Seoul sekaligus masjid terbesar di Korea.

Seoul Central Mosque yang dibuka untuk pertama kalinya pada tanggal 5 Mei 1976 ini tepatnya berada di distrik Yongsan-gu. Selain menjadi pusat agama Islam, masjid ini juga merupakan kebanggaan lebih dari 45 ribu masyarakat Korea asli yang memeluk Islam sejak lama. Masjid ini dalam bahasa Arab bernama Masjid Si’ul Al Markaz, namun petunjuk jalan yang dibuat oleh pemerintah setempat menuliskannya dengan bahasa Inggis yakni Seoul Central Mosque. Arsitekturnya yang khas membuat wisatawan akan dengan mudah mengenali masjid ini. Di pintu utama terdapat tulisan “Allahu Akbar” menggunakan huruf Arab yang cukup besar. Bagi masyarakat setempat dan pemeluk non muslim, masjid ini merupakan titik destinasi wisata karena keindahan arsitekturnya. Apalagi Seoul Central Mosque ini terletak antara Namsan dan Han River.

Bangunan yang terdiri dari 3 lantai ini umumnya memiliki tempat terpisah untuk wanita dan pria. Masjid ini tidak hanya menyediakan tempat untuk sholat berjamaah namun juga terdapat beberapa ruangan lain seperti kantor, ruang kelas, ruang rapat dan ruang konferensi. Bahkan ada penginapan yang sering dipakai para pekerja asing untuk menginap. Perluasan bangunan ini dilakukan pada tahun 1991 setelah pengelola setempat mendapatkan sumbangan dari pemerintah Arab Saudi sebesar 3,5 miliar Won.


Seperti layaknya masjid yang berdiri di negara berpenduduk non-muslim, Anda yang menyempatkan datang akan melihat bahwa masjid ini didatangi oleh orang-orang yang berasal dari latar belakang negara yang berbeda. Seperti Mesir, Libya, Suria, Sudan, Pakistan, Bangladesh, Turki dan tentu saja Indonesia. Mereka pada umumnya adalah para pekerja asing yang mengadu nasib di Korea Selatan. Ada juga penduduk asli keturunan para mualaf yang masuk ke Korea saat Perang Korea. Pada saat bulan Ramadhan, masjid ini akan semakin ramai oleh kegiatan keagamaan dan acara buka serta sahur bersama.

Sama seperti di Indonesia, pengelola masjid juga menyediakan hidangan untuk para jamaah. Jadi Anda tak perlu ketakutan kelaparan jika mengunjungji Seoul Central Mosque saat bulan puasa.


Masjid ini juga menjadi jujugan para wisatawan yang ingin menunaikan shalat Jumat. Setiap hari Jumat paling tidak ada 800 jamaah yang melaksanakan shalat. Menyadari bahwa jamaah shalat Jumat di masjid ini berasal dari berbagai negara, maka khutbah Jumat akan diberikan dalam 2 bahasa sekaligus yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Nah, Jika Anda datang jauh sebelum shalat Jumat dilaksanakan, Anda bisa berjalan-jalan mengitari kawasan ini yang dipenuhi toko-toko penjual pernik-pernik umat muslim seperti buku, CD dan perangkat sholat yang kebanyakan dijual oleh warga Pakistan.

Daerah ini juga menyediakan Iteawon Night Market yang terletak di dekat kawasan masjid. Pasar yang dibuka pada malam hari ini menyediakan berbagai barang, baju dan asesoris seperti kaus kaki, anting-anting, gelang, kalung dan beberapa fashion item lainnya.


Uniknya, lokasi Seoul Central Mosque ini berada di dekat basis militer AS di Korea Selatan. Jadi jangan heran jika Anda akan melihat sekelompok tentara Amerika hilir mudik di kawasan ini.
Untuk sampai ke Seoul Central Mosque ini Anda bisa menumpang subway jalur 6 melalui Seoul Subway dan turun di Stasiun Itaweon pintu exit nomor 3. Turun dari stasiun Anda akan menemukan Fire Station Itaewon berbeloklah ke kanan. Jika sampai di persimpangan belok kiri dan berjalanlah sekitar 200 meter, di sana kita dapat melihat geliat kehidupan muslim di Korea.

Bagi wisatawan yang masih ingin melihat geliat kehidupan muslim disini, Anda bisa menginap di hotel-hotel yang ada di Itaewon seperti Hamilton Hotel Itaewon, Grand Hyatt Hotel atau Capital Itaewon Hotel. Setelah itu, Anda juga bisa menikmati destinasi wisata lainnya di Seoul yakni Whanki Museum, makan di Restoran Seokparang atau menjelajahi Seoul Forest yang mengagumkan.

Menurut Korea Muslim Federation (KMF), didirikan pada 1967, ada sekitar 120.000 sampai 130.000 Muslim yang tinggal di Korea Selatan, baik pribumi maupun orang asing. Mayoritas penduduk terdiri dari pekerja migran asal Pakistan dan Bangladesh. Jumlah Muslim asli Korea diperkirakan mencapai sekitar 45.000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar