Selasa, 10 November 2015
ِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Di Rumah ALLAH Itu, Kita...
Aku ingin memiliki rasa rindu itu..
Sebagaimana nenek di jalan raya, yang rela menukarkan sehari waktunya demi segenggam uang..
Uang yang menjadi bukti nyata kerinduannya terhadap panggilan Allah..
Di rumah Allah itu berdiri tegak sebuah cerita..
Tentang simbol kebesaran Allah, yang diperjuangkan oleh para generasi shalihin..
Aku ingin memiliki rindu itu..
Maka kucari semua keutamaannya..
Dan kudapati sebuah cerita tentang kemuliaan..
Ketika bunda Siti Hajar melakukan ikhtiar yang luar biasa..
Demi anak tercinta, Ismail AS..
Lari-lari kecil yang bukan menunjukkan keputusasaan..
Justru menampakkan harapan yang masih menyala dalam dirinya..
Allah menjawab langsung ikhtiar itu..
Jawaban yang justru ternyata datang dari kaki kecil Ismail yang menendang-nendang tanah..
Bukan dari salah satu ikhtiarnya..
Air kecil itu pun kini menjadi kerinduan masyarakat muslim dunia..
Zam-zam, namanya..
Aku ingin memiliki rindu itu..
Maka kucari kepingan sejarah itu..
Ada yang menyebutkan bahwa pertama kali ia dibangun oleh para Malaikat..
Ada yang menyebutkan, Adam AS sang manusia pertama-lah yang pertama kali membangunnya..
Sumber terkuat menyebutkan Ibrahim AS yang pertama kali menyebutnya, sebagaimana diperintahkan Allah SWT..
Lalu berdiri tegaklah ia, di bumi yang disucikan..
Pernah ia menjadi saksi sejarah yang berujung gelar "Al-Amin" bagi Muhammad (SAW)..
Sesosok pemuda mulia yang nantinya akan menjadi penutup Risalah para Nabi..
Rumah mulia tersebut hari ini dikunjungi oleh ratusan juta umat muslim dari seluruh dunia..
Jadi arah tempat bersujud bagi mereka yang terhimpun di setiap sudut dunia..
Ka'bah, begitu Allah SWT menyebutnya..
Aku ingin memiliki rindu itu..
di kota yang disucikan itulah pertama kali Rasulullah SAW bicara tentang Tauhid..
Kota itu jadi saksi, betapa kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW yang telah terbangun semenjak lama..
Runtuh oleh penolakan akan kebenaran..
Di kota tersebut pula tercatat bahwa kebenaran dikalahkan sementara oleh egoisme duniawi..
Namun sepuluh tahun setelah sang Rasul pergi meninggalkan kota tersebut,
sejarah mencatat kemenangan yang diberikan Allah kepada pasukan kebenaran..
Kota tersebut suci, disucikan kembali..
Ratusan berhala dihancurkan, berujung pada suara jernih yang mengumandangkan Adzan dari Bilal bin Rabbah; seorang yang sebelumnya merupakan hamba sahaya di kota suci tersebut..
Ah, aku ingin memiliki rindu itu..
Mekkah, demikian kota suci itu disebut..
Rasanya aku ingin memiliki rindu itu kawan..
Rasanya aku ingin mengajak kalian untuk bersama pula memilikinya..
Karena ini terlalu indah untuk dimiliki sendiri..
Karena akan hebat ketika kerinduan itu kita miliki bersama..
Dan azzamkan di hati kita, kawan..
Ketika kerinduan itu telah memuncak..
Maka ingatlah kita akan berazzam..
Di suatu hari nanti..
Kita akan berdiri bersama, menatap senja di tempat ini..
Menghibahkan do'a kita..
Untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar